MAKASSAR FOOTBALL — Derap langkahku mengayun pelan saat pertama kali tiba di Stadion Kanjuruhan, Malang. Ya ini pertama kali penulis kembali ke kota tempatnya menimba ilmu 15 tahun lalu.
Hati ku tergoyah saat tragedi itu terjadi, 1 Oktober 2022. Kota ini memang sangat dekat dalam memori ingatanku. Beberapa tahun silam saya sering menonton setiap kali Arema Indonesia menjamu tamunya di stadion yang berjarak kurang lebih 20km dari Kota Malang.
Tak pernah sekalipun terbayangkan akan terjadi tragedi memilukan disana. Sekejap dinginnya Malang berubah mencekam.
Penulis mencoba menguatkan hati untuk berkunjung kesana, walau sebagaian wisatawan tak memasukkan Kanjuruhan sebagai tujuannya, tapi ini keinginan hati.
Berselang 5 tahun 10 Bulan, Gate 13 kini jadi museum dan keluarga korban tragedi Kanjuruhan dalam waktu-waktu tertentu berdoa di tempat itu.
Gate 13, tempat banyak korban tragedi Kanjuruhan berguguran, dibiarkan utuh tanpa perubahan. Pintu biru besi dan lubang angin-angin yang jebol masih sama bentuknya seperti 1 Oktober 2022.
Sedangkan di Gate-gate lain, pintu biru besi itu sudah berganti dengan gerbang berukuran besar berwarna abu-abu.
Hanya saja di sekeliling Gate 13 kini dibangun ruangan berdinding kaca. Di pilar-pilarnya, tertulis nama-nama korban yang sengaja diabadikan.
Kemudian, di pintu biru Gate 13 terlihat masih tertempel sisa-sisa poster dan stiker bernada protes. ‘Yang ada hanyalah kematian’, ‘usut tuntas’, dan sejumlah poster lainnya yang tak terbaca jelas karena terkelupas.
Sementara halaman di sisi depan Gate 13, terlihat kotor. Daun-daun jatuh dan berserakan tak disapu. Sesekali angin bertiup dan sunyi diam-diam menyergap.
Di salah satu sudut pagar seberang Gate 13 tertempel spanduk yang dipasang keluarga korban Tragedi Kanjuruhan yang keberatan Arema FC kembali menggunakan Kanjuruhan sebagai stadion kandang.
“Keluarga korban tragedi Kanjuruhan menolak Arema FC main di lokasi pembunuhan (Stadion Kanjuruhan),” salah satu tulisan pada spanduk.
Pada spanduk lainnya, foto-foto para korban jelas terpampang. Mereka juga menuliskan tuntutan agar Tragedi Kanjuruhan diusut tuntas.
“Main di sini = tak punya nurani,” tulis mereka.
Sementara di dalam stadion, pintu menuju tribune 13 juga terkunci rapat. Tak seperti pintu-pintu di tribune lainnya. Seorang steward yang berjaga mengaku tak tahu apa alasannya.
Kini yang tersisa hanya ingatan kita tantang tragedi itu. Namun, tak ada lagi yang mengingat siapa-siapa korbannya, berapa jumlahnya, siapa pelakunya dan apa hukumannya.
Satu hal yang pasti, tak ada satu pun pelaku yang ditindak tegas atas kejadian ini. Kemudian yang tersisa hanyalah kenangan dan doa yang terus terkirim untuk para korban.
Untuk semua, jangan pernah berhenti mengingat tragedi ini. Apalagi berhenti membicarakannya. Tragedi ini wajib menjadi cambuk untuk kita semua, agar tak ada lagi anak yang kehilangan orang tuanya kemudian orang tua yang kehilanhan anaknya.
